Malang, 21 November 2025 - Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional kembali ditegaskan melalui agenda Simposium Petani Muda Jawa Timur yang digelar di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara KAMMI Jawa Timur dan Kementerian Pertanian RI sebagai langkah konkret mendorong lahirnya generasi muda yang siap menjadi garda depan pertanian Indonesia.
Acara ini mengundang sejumlah tokoh penting, termasuk Menteri Pertanian RI Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P, Ketua Umum PP KAMMI Ahmad Jundi Khalifatullah, Ketua Bidang LHK PP KAMMI Aulia Furqon, Ketua PW KAMMI Jawa Timur Edo Agasiswanto, serta Ketua KAMMI Daerah Malang M. Ariz Pratama.
Penguatan Infrastruktur Air untuk Produktivitas Lahan
Salah satu materi utama disampaikan oleh Dirjen Konservasi dan Pengembangan Sumber Air (KPSA), Dr. Asmarhansyah, yang menekankan pentingnya optimalisasi lahan dan air.
Ia memaparkan sejumlah program strategis, di antaranya:
Pembangunan 15.000 unit irigasi perpompaan
3.000 unit irigasi perpipaan
Pembangunan bangunan konservasi air seperti embung, daparit, normalisasi saluran, dan longsorit
Program ini, menurutnya, bertujuan meningkatkan Indeks Pertanaman (IP), memperluas lahan tanam, serta mendongkrak efektivitas produksi. Dampaknya juga diharapkan menguntungkan petani melalui peningkatan harga gabah hingga Rp6.000/kg dan penurunan harga pupuk.
“Ketahanan pangan tidak akan tercapai tanpa ketersediaan air yang berkelanjutan,” tegas Asmarhansyah, sembari menyoroti kolaborasi lintas lembaga seperti kelompok tani, TNI, PLN, serta mahasiswa.
Ia juga menepis polemik mengenai bangunan yang disebut mirip toilet di Boyolali, dengan menjelaskan bahwa fasilitas tersebut sebenarnya adalah infrastruktur irigasi perpompaan yang membutuhkan investasi besar untuk pengeboran dan perpipaan.
KAMMI: Swasembada Tak Akan Terwujud Tanpa Persoalan Air Terselesaikan
Ketua Bidang LHK PP KAMMI, Aulia Furqon, menyoroti dua persoalan mendasar yang masih menghambat pertanian, yakni kurangnya lahan serta irigasi yang belum optimal.
Melalui program Brigade Pangan, KAMMI bersama Kementerian Pertanian telah mendorong keterlibatan mahasiswa dalam pengelolaan sawah dan pencetakan petani muda. Ia menegaskan bahwa swasembada pangan tidak bisa sekadar menjadi slogan.
“Tidak akan ada swasembada pangan tanpa air yang mengaliri lahan. Kami hadir sebagai mitra kritis pemerintah untuk memastikan persoalan ini diperhatikan,” ujarnya.
Aulia juga menyinggung polemik harga beras yang masih tinggi meski Indonesia tidak melakukan impor, sehingga diperlukan perbaikan menyeluruh pada sistem produksi dan distribusi.
Peran Strategis Petani Muda dalam Transformasi Pertanian
Sementara itu, Plt. Sekretaris BPPSDMP Kementerian Pertanian, Nurul Qomariyah, menegaskan bahwa petani muda memiliki peran vital dalam pertumbuhan ekonomi, penyedia pangan, serta perluasan lapangan kerja.
Melalui Brigade Pangan yang melibatkan babinsa, petani milenial, dan petani senior, pemerintah mendorong pengelolaan lahan secara kolaboratif.
Ia juga menyoroti transformasi teknologi yang kini menjadi bagian penting modernisasi pertanian, termasuk penggunaan:
Traktor pembajak
Rice transplanter
Drone untuk sebar benih dan penyemprotan
Combine harvester untuk panen cepat dan efisien
“Pertanian modern menuntut keterlibatan generasi muda yang melek teknologi. Ini bukan hanya soal tanam dan panen, tetapi bagaimana mengelola pertanian sebagai sektor strategis masa depan,” jelasnya.
Mendorong Lahirnya Generasi Petani Muda Jawa Timur
Simposium ini menegaskan bahwa Jawa Timur memiliki potensi besar untuk menjadi lokomotif pertanian nasional bila sinergi antara pemerintah, petani, dan mahasiswa terus diperkuat. Melalui agenda ini, KAMMI Jawa Timur berharap semakin banyak mahasiswa tertarik terjun ke sektor pertanian sebagai profesi masa depan.
Acara ditutup dengan penegasan komitmen bersama untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia melalui inovasi, sinergi, dan pemberdayaan generasi muda.






